<?xml version="1.0"?><rss version="2.0"><channel><title><![CDATA[Portal Kebijakan Baru Arah Selatan - Agenda Kebijakan]]></title><link><![CDATA[https://nspp.mofa.gov.tw/nsppid/]]></link><description><![CDATA[RSS]]></description><language><![CDATA[NSPP_Bahasa Indonesia]]></language><image><title><![CDATA[Portal Kebijakan Baru Arah Selatan - Agenda Kebijakan]]></title><url><![CDATA[https://nspp.mofa.gov.tw/nsppid/images/__LOGO.svg]]></url><link><![CDATA[https://nspp.mofa.gov.tw/nsppid/]]></link></image><item><title><![CDATA[Wawancara Eksklusif Menlu Lin Chia-lung dengan Majalah Tempo Indonesia]]></title><link><![CDATA[https://nspp.mofa.gov.tw/nsppid/news.php?unit=433&post=280910]]></link><guid>280910</guid><pubDate>2026/01/27</pubDate><description><![CDATA[Menteri Luar Negeri Lin Chia-lung menerima wawancara eksklusif secara daring dengan Majalah Tempo yang merupakan majalah terbesar di Indonesia. Wawancara ini adalah wawancara eksklusif perdana Menlu Lin Chia-lung dengan media Asia Tenggara sejak menjabat.<br />
&nbsp;<br />
Dalam wawancara tersebut, Menlu Lin Chia-lung menyampaikan pandangannya mengenai situasi keamanan kawasan Indo-Pasifik, ancaman militer Tiongkok, serta kerja sama ekonomi dan teknologi antara Taiwan dan Indonesia. Menlu Lin menegaskan kembali komitmen Taiwan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas status quo di Selat Taiwan, sekaligus menyatakan keinginan untuk memperdalam kerja sama industri semikonduktor antara Taiwan dan Indonesia.<br />
&nbsp;<br />
Menlu Lin menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir Tiongkok terus meningkatkan tekanan militer terhadap Taiwan, dengan mengombinasikan pelanggaran wilayah udara oleh pesawat militer, manipulasi informasi, serta perang kognitif sebagai bentuk ancaman hibrida untuk mengubah status quo di Selat Taiwan.<br />
&nbsp;<br />
Ambisi geopolitik Tiongkok juga telah meluas ke Jepang dan Filipina, bahkan menantang tatanan internasional pasca-Perang Dunia II melalui klaim sepihak seperti pernyataan bahwa Kepulauan Ryukyu merupakan bagian dari Tiongkok.<br />
&nbsp;<br />
Menlu Lin menegaskan bahwa tindakan-tindakan tersebut menunjukkan Tiongkok telah menjadi sumber utama yang merusak perdamaian dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Menghadapi ancaman tersebut, Pemerintah Taiwan akan tetap berpegang pada status quo serta terus mendorong reformasi pertahanan dan pembangunan ketahanan pertahanan seluruh masyarakat demi memperkuat daya tangkal dan menjaga perdamaian serta stabilitas Selat Taiwan. Taiwan tidak berniat meningkatkan konfrontasi,&nbsp; tujuan utama yang ingin dicapai adalah memastikan perdamaian kawasan dan kebebasan bernavigasi.<br />
&nbsp;<br />
Mengenai hubungan bilateral Taiwan-Indonesia, Menlu Lin menyatakan bahwa interaksi kedua pihak seharusnya tidak dibatasi oleh prinsip &ldquo;satu Tiongkok&rdquo; yang dikemukakan Beijing, melainkan kembali pada kerja sama pragmatis yang saling menguntungkan. Ia mencontohkan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang dibangun oleh Tiongkok, yang kerap iming-iming janji besar namun kemudian menimbulkan kontroversi terkait kualitas, pembiayaan, dan pemenuhan kontrak. Sebaliknya, Taiwan selama ini menjunjung tinggi prinsip integritas, menekankan kerja sama jangka panjang dan hasil nyata. Menlu Lin mendorong Pemerintah Indonesia untuk memandang Taiwan sebagai mitra yang setara dan tepercaya.<br />
&nbsp;<br />
Mengenai prospek kerja sama, Menlu Lin menyoroti bahwa dalam era di mana semikonduktor menjadi komoditas strategis, teknologi, ekonomi, dan keamanan tidak lagi dapat dipisahkan. Pola lama &ldquo;ekonomi bergantung pada Tiongkok, keamanan bergantung pada Amerika Serikat&rdquo; dinilai tidak lagi relevan. Ia menyebut Indonesia memiliki pasar yang besar dan potensi pertumbuhan yang kuat, menjadikannya mitra penting Taiwan di kawasan ASEAN. Sebagai simpul kunci dalam rantai pasok semikonduktor global, Taiwan siap berperan sebagai jembatan untuk membantu Indonesia terhubung dengan &ldquo;rantai pasok non-merah&rdquo; yang dipimpin bersama oleh Amerika Serikat dan negara-negara demokrasi, serta memenuhi standar keamanan siber dan kepercayaan.<br />
&nbsp;<br />
Menutup wawancara, Menlu Lin menyampaikan bahwa ruang kerja sama antara Taiwan dan Indonesia sangat luas. Taiwan akan terus memperkuat perannya di kancah internasional serta mendukung Indonesia dalam memainkan peran kepemimpinan di ASEAN, untuk bersama-sama membangun kawasan Indo-Pasifik yang bebas, terbuka, dan aman.<br />
&nbsp;]]></description></item><item><title><![CDATA[Wamenlu Ger Bau-shuan Pimpin Upacara Kelulusan Program Pelatihan Elite Kebijakan Baru Arah Selatan]]></title><link><![CDATA[https://nspp.mofa.gov.tw/nsppid/news.php?unit=433&post=280336]]></link><guid>280336</guid><pubDate>2026/01/13</pubDate><description><![CDATA[<p>Wakil Menteri Luar Negeri Ger Bau-shuan memimpin Upacara Wisuda Bersama Lima Perguruan Tinggi Program Pelatihan Elite &ldquo;Konektivitas Kebijakan Baru Arah Selatan&rdquo; 2025 yang digelar di Aula Besar Kementerian Luar Negeri, Senin, 12 Januari 2026.<br />
<br />
Dalam kesempatan tersebut, Ger Bau-shuan mewakili Menteri Luar Negeri Lin Chia-lung menganugerahkan &ldquo;Penghargaan Menteri&rdquo; kepada lima peserta berprestasi.<br />
<br />
Dalam sambutannya, Ger Bau-shuan menyampaikan bahwa Kementerian Luar Negeri (MOFA Taiwan) telah menyelenggarakan program pelatihan ini sejak tahun 2022 dan skalanya terus berkembang dari tahun ke tahun. Pada angkatan kali ini, sebanyak 105 peserta mengikuti program pertukaran dan pembelajaran di Taiwan selama lima bulan.<br />
<br />
Para peserta memperoleh pemahaman mendalam mengenai nilai demokrasi dan kebebasan yang secara teguh dijaga oleh Taiwan, serta betapa berharganya cara hidup tersebut.<br />
<br />
Ger Bau-shuan juga mendorong para lulusan untuk menjadi &ldquo;Friends of Taiwan&rdquo; dan mengharapkan agar pengalaman serta pengetahuan yang diperoleh dapat diubah menjadi peluang tanpa batas dalam menapaki perjalanan hidup selanjutnya.<br />
<br />
Sementara itu, lima penerima Penghargaan Menteri, masing-masing berasal dari Thailand, dua dari Indonesia, Filipina, dan Vietnam, dalam sambutan mereka menyampaikan bahwa program ini mencerminkan komitmen Taiwan dalam memajukan pendidikan tinggi dengan dampak lintas batas.<br />
<br />
Melalui pengalaman bersama di tengah masyarakat Taiwan yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, kesetaraan dalam layanan kesehatan nasional, serta kebebasan berekspresi dan berkarya, para peserta tidak hanya bertumbuh secara akademik dan personal, tetapi juga berhasil membangun ikatan yang kuat melampaui batas negara, sebuah kenangan berharga yang akan dikenang seumur hidup.</p>]]></description></item><item><title><![CDATA[Rekrutmen Pekerja Migran Langsung dari Indonesia Diperluas, Dibuka untuk Sektor Konstruksi, Pemotongan Hewan, dan Perikanan Tangkap Laut]]></title><link><![CDATA[https://nspp.mofa.gov.tw/nsppid/news.php?unit=433&post=280100]]></link><guid>280100</guid><pubDate>2026/01/07</pubDate><description><![CDATA[Demi menanggapi tren internasional terkait rekrutmen yang adil serta memperkuat efektivitas kerja sama rekrutmen langsung antara Taiwan dan negara-negara sumber tenaga kerja migran, Kementerian Tenaga Kerja (MOL) terus secara aktif melakukan konsultasi melalui pertemuan bilateral untuk memperluas sektor pekerjaan dalam proyek seleksi tenaga kerja rekrutmen langsung.<br />
&nbsp;<br />
Selain layanan rekrutmen langsung yang telah mencakup sektor manufaktur, perawat institusional, dan pertanian, baru-baru ini telah dicapai kesepakatan dengan pemerintah Indonesia untuk membuka akses bagi pemberi kerja di sektor konstruksi, pemotongan hewan, dan perikanan tangkap laut. Seluruhnya kini dapat memanfaatkan mekanisme seleksi tenaga kerja proyek melalui &ldquo;Pusat Layanan Bersama Rekrutmen Langsung&rdquo;, dengan prosedur yang cepat, mudah, dan hemat biaya.<br />
&nbsp;<br />
Kebijakan &ldquo;rekrutmen langsung&rdquo; Kementerian Tenaga Kerja (MOL) menyediakan layanan terpadu melalui Pusat Rekrutmen Langsung, meliputi konsultasi perekrutan dan penjelasan regulasi, pengajuan permohonan dan persiapan dokumen, manajemen pascaperekrutan serta layanan pengingat, bantuan penerjemahan dan juru bahasa dwibahasa, fasilitasi alih status tenaga kerja migran, hingga pendampingan khusus satu kasus hingga tuntas.<br />
&nbsp;<br />
Pusat ini juga menempatkan tenaga konsultan dwibahasa berbahasa Indonesia Inggris dan lainnya untuk membantu komunikasi antara pemberi kerja dan tenaga kerja migran, sehingga proses rekrutmen langsung menjadi lebih sederhana dan memberikan ketenangan bagi pemberi kerja.<br />
&nbsp;<br />
Kementerian Tenaga Kerja (MOL) menegaskan bahwa sistem rekrutmen langsung tidak hanya mempercepat proses seleksi tenaga kerja dan meningkatkan otonomi pemberi kerja dalam perekrutan, tetapi juga sejalan dengan tren global &ldquo;rekrutmen yang adil&rdquo;. Skema ini secara efektif membebaskan tenaga kerja migran dari kewajiban membayar biaya agen di luar negeri, meningkatkan transparansi proses seleksi, menjamin kesetaraan akses informasi, serta mencegah pungutan tidak wajar dan risiko eksploitasi.]]></description></item><item><title><![CDATA[Kepala TETO di Jakarta: Hubungan Antarwarga Fondasi Utama Hubungan Taiwan-Indonesia]]></title><link><![CDATA[https://nspp.mofa.gov.tw/nsppid/news.php?unit=433&post=278601]]></link><guid>278601</guid><pubDate>2025/12/03</pubDate><description><![CDATA[&ldquo;Lebih dari 50 pekerja migran Indonesia turut bergabung dalam aksi penyelamatan dan pembersihan lokasi bencana di Hualien sebagai bagian dari tim &lsquo;Pahlawan Sekop&rsquo;. Hubungan antarmanusia adalah fondasi terpenting dalam hubungan Taiwan-Indonesia&rdquo;. Demikian disampaikan oleh Kepala Kantor Ekonomi dan Perdagangan (TETO) di Jakarta, Bruce Hung, yang menyoroti kemajuan signifikan hubungan bilateral di berbagai bidang.<br />
&nbsp;<br />
Bruce Hung menjelaskan bahwa saat ini sekitar 18.000 mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan di Taiwan dan lebih dari 300.000 pekerja migran Indonesia bekerja di berbagai sektor di Taiwan. Menurutnya, people-to-people connection merupakan pilar terpenting dalam hubungan Taiwan-Indonesia.<br />
&nbsp;<br />
Masyarakat Indonesia memiliki karakter budaya yang mirip dengan masyarakat Taiwan, sama-sama santun, meski umumnya lebih introvert. Minat masyarakat Indonesia untuk belajar atau bekerja di Taiwan terus meningkat, sementara pekerja migran Indonesia umumnya merasakan pengalaman kerja yang lebih nyaman di Taiwan dibanding di negara lain.<br />
&nbsp;<br />
Sebagai contoh, Bruce Hung menyoroti aksi solidaritas 50 pekerja migran Indonesia yang secara sukarela membantu operasi pembersihan di Hualien pada Oktober lalu. &ldquo;Dukungan seperti ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Secara umum, pekerja migran Indonesia memiliki pandangan positif dan penuh harapan terhadap Taiwan,&rdquo; ujarnya.<br />
&nbsp;<br />
Dengan lebih dari 85% penduduk Indonesia beragama Islam, sertifikasi halal menjadi faktor utama dalam konsumsi pangan, kosmetik, dan produk kesehatan. Sistem sertifikasi ini memastikan keamanan dan kepatuhan produk bagi konsumen Muslim.<br />
&nbsp;<br />
Kepala Bagian Ekonomi TETO, Lu Feng-ching, menjelaskan bahwa pada tahun ini Taiwan dan Indonesia telah menandatangani MOU kerja sama promosi halal. Produk makanan-minuman, kosmetik, serta obat-obatan asal Taiwan yang dipasarkan di Indonesia kini wajib memiliki sertifikasi halal.<br />
&nbsp;<br />
Untuk itu, Taiwan Halal Industry Development Association (THIDA) dan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal Indonesia (BPJPH) telah menandatangani perjanjian saling pengakuan sertifikasi. Kesepakatan ini diharapkan dapat memperlancar akses produk Taiwan ke pasar Indonesia dan mendorong kerja sama ekonomi yang lebih erat.<br />
&nbsp;<br />
Bruce Hung menegaskan bahwa hubungan Taiwan-Indonesia akan terus bertumbuh berdasarkan kedekatan masyarakat kedua negara, sebuah fondasi yang ia nilai lebih kuat daripada sekadar kerja sama ekonomi atau diplomatik.]]></description></item><item><title><![CDATA[49 Tahun Kerja Sama Pertanian Taiwan-Indonesia, Dua Proyek Baru Siap Dimulai di Sulawesi Selatan dan Jawa Barat]]></title><link><![CDATA[https://nspp.mofa.gov.tw/nsppid/news.php?unit=433&post=278368]]></link><guid>278368</guid><pubDate>2025/11/28</pubDate><description><![CDATA[Merayakan 49 tahun kerja sama pertanian antara Taiwan dan Indonesia, Tim Teknis Profesional Taiwan dari International Cooperation and Development Fund (ICDF) menggelar acara bertajuk &ldquo;Mewarisi dan Melanjutkan - Babak Baru Kerja Sama Teknis di Indonesia&rdquo;, Kamis, 27 November 2025.<br />
&nbsp;<br />
Acara ini turut dihadiri oleh anggota DPR Indonesia, pejabat dari Badan Pangan Nasional, Kementerian Pertanian RI, perwakilan pemerintah daerah, serta mitra-mitra kerja lainnya.<br />
&nbsp;<br />
Dalam kegiatan ini, para hadirin bersama-sama meninjau pencapaian hasil kerja sama bilateral selama hampir setengah abad, dan menyaksikan pemaparan prestasi dari Program Pendampingan Produksi-Pemasaran Bawang Putih dan Bawang Merah di Sumatra Utara, serta Program Penguatan Sistem Pemasaran Sayur-Buah di Karawang, yang menunjukkan pendalaman dan keberlanjutan kerja sama pertanian Taiwan-Indonesia.<br />
&nbsp;<br />
Dalam sambutannya, Kepala TETO di Indonesia, Bruce Hung, menyampaikan bahwa sejalan dengan kebijakan swasembada pangan yang dicanangkan Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Taiwan akan meluncurkan dua proyek kerja sama baru pada tahun 2026. Proyek tersebut berlokasi di Sulawesi Selatan dan Jawa Barat, dengan fokus pada produksi benih jagung dan penguatan sistem produksi dan pemasaran sayuran.<br />
&nbsp;<br />
Bruce Hung menegaskan bahwa Taiwan berkomitmen untuk terus memperdalam kerja sama dengan Indonesia di bidang pertanian, teknologi, pendidikan, dan pengembangan SDM, serta menjadi mitra terpercaya yang turut mendukung pembangunan berkelanjutan sebagai anggota komunitas internasional yang aktif dan bertanggung jawab.<br />
&nbsp;<br />
Dalam sesi kuliah umum, Prof. Dr. Yunus dari Universitas Hasanuddin (UNHAS) memaparkan materi bertema &ldquo;Mewarisi dan Melanjutkan &mdash; Dampak Kerja Sama UNHAS dan ICDF Taiwan di Sulawesi Selatan&rdquo;. Ia mengulas hasil program benih padi yang telah lama dijalankan, sekaligus memperkenalkan proyek kerja sama benih jagung yang akan segera dimulai, menandai dimulainya fase baru hubungan kerja sama pertanian kedua pihak.<br />
&nbsp;<br />
Wakil Sekretaris Jenderal ICDF, Hsieh Pei-fen, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya menjadi kesempatan untuk meninjau kontribusi teknis Taiwan selama hampir 50 tahun di Indonesia, tetapi juga menunjukkan peran ICDF dalam membantu negara-negara sahabat menghadapi tantangan perubahan iklim dan transformasi pertanian global.<br />
&nbsp;<br />
ICDF akan terus mengedepankan prinsip &ldquo;kerja sama profesional dan pemberdayaan lokal&rdquo; dalam mewujudkan semangat Prosperity Partnership Policy yang dicanangkan Menteri Luar Negeri Lin Chia-lung.<br />
&nbsp;<br />
&nbsp;]]></description></item><item><title><![CDATA[Program Duta Muda Pertanian NSP 2025 Lakukan Kunjungan Perdana ke Australia, Perluas Wawasan Global, Buka Peluang Baru Kerja Sama Pertanian Taiwan–Australia]]></title><link><![CDATA[https://nspp.mofa.gov.tw/nsppid/news.php?unit=433&post=278371]]></link><guid>278371</guid><pubDate>2025/11/28</pubDate><description><![CDATA[Kementerian Pertanian (MOA), bersama Kementerian Luar Negeri (MOFA Taiwan), tahun ini kembali menyelenggarakan Program Duta Muda Pertanian Kebijakan Baru Arah Selatan (New Southbound Policy, NSP) yang telah memasuki edisi keenam.<br />
&nbsp;<br />
Sebanyak 16 pemuda dan mahasiswa berprestasi di bidang pertanian terpilih sebagai anggota delegasi dan untuk pertama kalinya melakukan kunjungan studi ke Australia. Rombongan duta muda tiba di Melbourne pada 23 November untuk memulai rangkaian kegiatan selama delapan hari.<br />
&nbsp;<br />
Tahun ini, program tersebut untuk pertama kalinya menggabungkan unsur &ldquo;diplomasi penduduk asli&rdquo; dan &ldquo;diplomasi pertanian&rdquo;, mencerminkan komitmen Taiwan dalam mendorong konsep &ldquo;Diplomasi Komprehensif&rdquo;. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat hubungan dan pertukaran pertanian antara Taiwan dan Australia, tetapi juga memperluas wawasan internasional para duta muda melalui interaksi budaya yang beragam.<br />
&nbsp;<br />
Kementerian Pertanian (MOA) mejelaskan bahwa selama kunjungan, para anggota delegasi mengadakan pertemuan dengan Booln Booln Cultural Centre yang menampilkan budaya pertanian penduduk asli Australia, mengunjungi kebun buah yang menerapkan metode pertanian alami, lahan pertanian organik, pabrik pengolahan produk keju, serta melakukan kunjungan resmi ke Parlemen Queensland dan Departemen Pertanian negara bagian tersebut.<br />
&nbsp;<br />
Dalam kunjungan ini mereka juga berdiskusi dengan sektor publik dan swasta Australia terkait penelitian dan penerapan teknologi pertanian, keberlanjutan sumber daya pertanian, serta peluang investasi di Australia.<br />
&nbsp;<br />
Australia, yang tengah menghadapi tantangan penuaan tenaga kerja pertanian, kekurangan tenaga kerja, serta iklim ekstrem, aktif mengembangkan peluang baru melalui pertanian cerdas, peningkatan industri, dan penguatan rantai pasok, membuka ruang kerja sama baru bagi Taiwan dalam transfer teknologi dan pengembangan SDM.<br />
&nbsp;<br />
Para peserta juga mengikuti upacara pengasapan tradisional yang menjadi simbol kuat keterhubungan antara budaya penduduk asli dan alam. Melalui pengalaman ini, peserta merasakan secara langsung komitmen pemerintah Australia dalam menghormati dan melestarikan budaya penduduk asli.<br />
&nbsp;<br />
Dalam sesi pertukaran, diketahui bahwa pengembangan pertanian organik di Australia menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan tenaga kerja dan fluktuasi harga pasar yang berdampak pada keberlanjutan usaha. Australia juga terus mendorong masuknya investasi asing dan operator baru untuk memperkuat industri.<br />
&nbsp;<br />
Selain itu, industri peternakan sapi perah yang maju tetap melakukan inovasi produk untuk berekspansi ke pasar luar negeri. Temuan-temuan ini memberikan inspirasi bagi para peserta mengenai strategi pertanian Australia yang proaktif dan visioner dalam menghadapi tantangan pada sektor tersebut.]]></description></item><item><title><![CDATA[Taiwan dan Indonesia Tandatangani Dua Nota Kesepahaman tentang Promosi Perdagangan dan Kerja Sama Halal untuk Perkuat Kemitraan Ekonomi]]></title><link><![CDATA[https://nspp.mofa.gov.tw/nsppid/news.php?unit=433&post=278081]]></link><guid>278081</guid><pubDate>2025/11/21</pubDate><description><![CDATA[Dalam upaya memperdalam hubungan dagang bilateral serta memperluas kerja sama industri halal, Taiwan dan Indonesia menandatangani dua MOU mengenai Promosi Perdagangan dan Kerja Sama Halal pada 20 November 2025.<br />
&nbsp;<br />
Penandatanganan dilakukan oleh Kepala TETO di Indonesia, Bruce Hung, dan Kepala KDEI di Taipei, Arif Sulistiyo, difasilitasi oleh Kementerian Perekonomian (MOEA).<br />
&nbsp;<br />
MOU Promosi Perdagangan antara Taiwan dan Indonesia sebelumnya ditandatangani pada 2020 dan berakhir pada 2023. Setelah lebih dari dua tahun negosiasi, kedua pihak kembali memperbarui MOU tersebut dan memperluas cakupan kerja sama. Sektor-sektor baru yang menjadi fokus termasuk sarang burung walet, produk perikanan, hasil pertanian, makanan olahan, sepeda, industri perkapalan, produk rumah tangga, tekstil, perangkat medis, produk kecantikan dan kesehatan, kerajinan tangan, serta industri animasi, game, dan layanan digital.<br />
&nbsp;<br />
Selanjutnya, kedua pihak akan memperkuat kerja sama melalui penyelenggaraan pameran dagang, seminar, forum bisnis dan dialog industri, konferensi, pelatihan MICE, pengembangan jaringan bisnis, dan program peningkatan kapasitas, untuk membantu pelaku usaha Taiwan memasuki pasar Indonesia yang sangat besar.<br />
&nbsp;<br />
MOU Kerja Sama Halal merupakan nota kesepahaman pertama antara Taiwan dan Indonesia yang secara khusus berfokus pada bidang halal. Kerja sama ini meliputi pengakuan bersama sertifikasi halal, promosi layanan ramah Muslim, pertukaran informasi pasar, serta penyelenggaraan forum bisnis dan kegiatan perdagangan terkait produk halal. Kesepakatan ini diharapkan dapat membantu pelaku usaha Taiwan memahami karakteristik industri halal dan menghubungkannya dengan pasar halal internasional.<br />
&nbsp;<br />
Kedua MOU tersebut diharapkan mampu memperlancar arus perdagangan produk antara Taiwan dan Indonesia. Sebagai tindak lanjut, Taiwan berencana terus menyelenggarakan pameran dagang profesional untuk menarik pembeli dari Indonesia dan negara lainnya, serta mengoordinasikan delegasi bisnis Taiwan untuk mengikuti pameran di Indonesia dan mengadakan misi dagang guna memperluas peluang komersial.<br />
&nbsp;<br />
Indonesia merupakan pasar terbesar di ASEAN dan salah satu mitra dagang utama Taiwan dalam Kebijakan Baru Arah Selatan (New Southbound Policy, NSP). Melalui penandatanganan MOU ini, kedua pihak berharap dapat memperkuat platform kerja sama dan dialog, serta mendorong hubungan kemitraan yang saling menguntungkan.<br />
&nbsp;]]></description></item><item><title><![CDATA[Penduduk Baru Asal Indonesia Wu Hsiao-wen Tuturkan Pengalaman Mengajar Bahasa Indonesia di Taiwan]]></title><link><![CDATA[https://nspp.mofa.gov.tw/nsppid/news.php?unit=433&post=277751]]></link><guid>277751</guid><pubDate>2025/11/14</pubDate><description><![CDATA[Kantor Pelayanan Taipei Badan Imigrasi Nasional (NIA), baru-baru ini menyelenggarakan kegiatan &ldquo;Edukasi Keluarga bagi Penduduk Baru dan Sosialisasi Peraturan&rdquo;. Dalam acara tersebut, mereka mengundang Wu Hsiao-wen, penduduk baru asal Indonesia yang telah menetap di Taiwan, untuk berbagi kisah tentang kejutan budaya yang ia alami saat pertama kali datang ke Taiwan, serta bagaimana perjalanan tak terduga itu membawanya menjadi guru bahasa Indonesia, sebuah peran yang kini telah memperkaya banyak anak dan memperkenalkan keragaman budaya Indonesia di sekolah.<br />
&nbsp;<br />
&ldquo;Hanya ada dua siswa. Ibu mau coba mengajar?&rdquo; ujar Wu Hsiao-wen mengenang kembali pengalaman pertama mengajar. Tahun 2020, sebuah SD di New Taipei kesulitan mencari guru bahasa Indonesia untuk dua siswa yang memilih mata pelajaran tersebut. Berkat ajakan temannya, Wu Hsiao-wen pun memulai karier mengajarnya, dan kini sudah berjalan enam tahun.<br />
&nbsp;<br />
Wu Hsiao-wen menjelaskan bahwa pada awalnya ia hanya mengajar satu kelas per minggu. Namun kini, ia harus berpindah-pindah ke lima sekolah dalam seminggu, mengajar hingga sepuluh kelas setiap minggu. Ia sempat terpikir untuk berhenti karena honor yang tidak besar, tetapi setiap kali murid-murid menyapanya dalam bahasa Indonesia, dan ketika mendengar mereka berkata, &ldquo;Hari yang paling kami tunggu setiap minggu adalah hari Selasa, karena ada pelajaran bahasa Indonesia!&rdquo;, sapaan dan interaksi kecil seperti inilah yang menjadi sumber kekuatannya untuk terus mengajar dengan sepenuh hati selama enam tahun hingga sekarang.<br />
&nbsp;<br />
Wu Hsiao-wen juga membagikan kisah awal kedatangannya ke Taiwan di tahun 1999 untuk menempuh studi di jurusan ilmu komputer. Tak disangka, setibanya di Taiwan ia langsung menghadapi gempa bumi 921. Ditambah lagi, ia kesulitan beradaptasi dengan bahasa, makanan, dan cuaca, hingga membuatnya setiap hari menghitung waktu untuk bisa pulang kampung. Namun ia terus memotivasi diri untuk bertahan.<br />
&nbsp;<br />
Dengan ketekunan dan semangat, tanpa terasa ia mampu menyelesaikan studi dan kini membangun kehidupan bahagia bersama keluarga kecilnya yang beranggotakan lima orang.<br />
&nbsp;<br />
Wu Hsiao-wen mendorong para penduduk baru lainnya untuk saling menghargai perbedaan dan aktif berkomunikasi. Baginya, perbedaan dapat menjadi kekuatan, dan keragaman budaya adalah salah satu pemandangan terindah dalam masyarakat Taiwan.]]></description></item><item><title><![CDATA[Taiwan-Indonesia Luncurkan Program Kerja Sama Pengelolaan Sampah Laut, Tonggak Baru Menuju Lautan Bersih di Indo-Pasifik]]></title><link><![CDATA[https://nspp.mofa.gov.tw/nsppid/news.php?unit=433&post=277608]]></link><guid>277608</guid><pubDate>2025/11/12</pubDate><description><![CDATA[Sebagai wujud komitmen memperkuat kerja sama internasional demi mewujudkan lautan yang bersih di kawasan Indo-Pasifik, Dewan Urusan Kelautan (OAC) Taiwan bekerja sama dengan The Habibie Center Indonesia, meluncurkan Program Kerja Sama Pengelolaan Sampah Laut Taiwan-Indonesia di Jakarta pada 5-6 November. Rangkaian kegiatan meliputi konferensi pers internasional, lokakarya, serta forum pertukaran pemuda.<br />
&nbsp;<br />
Lokakarya ini mempertemukan sekitar 50 pakar dan peserta dari Taiwan, Indonesia, Jepang, dan Filipina, yang saling berbagi pengalaman serta praktik terbaik dalam penanganan sampah laut. Kegiatan ini menjadi langkah nyata pertama setelah penandatanganan MOU tentang Kerja Sama Pengelolaan Sampah Laut Indo-Pasifik antara Taiwan dan Indonesia pada bulan September lalu.<br />
&nbsp;<br />
Kepala OAC Kuan Bi-ling menyampaikan pidato sambutan melalui video pada konferensi pers internasional, dan menyampaikan pesan, &ldquo;Kita semua hidup di kawasan Indo-Pasifik. Laut ini adalah masa lalu dan masa depan kita bersama. &quot;Clean Oceans&quot; adalah komitmen kita, dan &quot;Indo-Pacific&quot; adalah kekuatannya.&rdquo;<br />
&nbsp;<br />
Sementara itu, Dr. Ilham Akbar Habibie, Ketua Dewan Pembina The Habibie Center, hadir langsung dalam acara tersebut dan menegaskan bahwa lembaganya, sebagai institusi yang mendorong demokrasi dan kepentingan publik, merasa terhormat dapat bekerja sama dengan OAC Taiwan. Melalui penelitian, forum, dan komunikasi publik, kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap isu kelautan, serta mendukung strategi nasional Indonesia dalam tata kelola laut yang berkelanjutan.<br />
&nbsp;<br />
Sebagai bagian dari upaya memberdayakan generasi muda, OAC mengundang delapan pemuda Taiwan yang berpengalaman dalam pencegahan dan pengelolaan sampah laut untuk berinteraksi dengan perwakilan muda dari lembaga pemerintah Indonesia, think tank, organisasi non-pemerintah, dan asosiasi penyelam lokal. Dalam diskusi, para pemuda membahas kebijakan dan arah kerja sama terkait pengelolaan sampah laut.<br />
&nbsp;<br />
Perwakilan pemuda Taiwan menyampaikan bahwa kunjungan ini memperdalam pemahaman mereka tentang kondisi dan tantangan pengelolaan sampah laut di Indonesia, sekaligus menyoroti prakarsa nyata Indonesia dalam pengurangan plastik, kegiatan bersih pantai, dan pendidikan lingkungan. Beragam praktik berkelanjutan di Indonesia memberikan inspirasi berharga bagi generasi muda Taiwan.<br />
&nbsp;<br />
Kuan Bi-ling menegaskan bahwa hanya dengan kepercayaan dan kerja sama lintas negara, laut dapat dipulihkan menjadi sehat dan penuh kehidupan. Taiwan akan terus berupaya melalui berbagai platform kerja sama internasional untuk berbagi pengalaman, menyelaraskan strategi, dan bersama Indonesia serta mitra regional lainnya mewujudkan laut Indo-Pasifik yang bersih dan berkelanjutan.<br />
&nbsp;]]></description></item><item><title><![CDATA[Perusahaan Taiwan Puji Keunggulan Multibahasa dan Kontribusi Mahasiswa Perantau, Dorong Daya Saing Lintas Sektor]]></title><link><![CDATA[https://nspp.mofa.gov.tw/nsppid/news.php?unit=433&post=277477]]></link><guid>277477</guid><pubDate>2025/11/10</pubDate><description><![CDATA[Seiring dengan ekspansi perusahaan Taiwan ke pasar global dan meningkatnya jumlah wisatawan internasional, kebutuhan akan talenta dengan kemampuan komunikasi lintas budaya dan kemahiran multibahasa menjadi faktor kunci dalam memperkuat daya saing industri.<br />
&nbsp;<br />
Dalam beberapa tahun terakhir, Dewan Urusan Komunitas Perantauan (OCAC) secara aktif menyelenggarakan Job Fair, program &ldquo;i-Employment untuk mahasiswa asing&rdquo;, serta berbagai layanan pendampingan karier untuk membantu mahasiswa perantau memasuki dunia kerja setelah lulus.<br />
<br />
Dengan latar belakang tumbuh kembang yang unik dan antusiasme kerja yang tinggi, mahasiswa perantau dinilai mampu membawa energi baru berupa inovasi, keberagaman, dan perspektif internasional bagi industri Taiwan.<br />
&nbsp;<br />
Dua perusahaan peserta &ldquo;Job Fair Mahasiswa Perantau 2025&rdquo; Humax Asia dan SKM Park Outlets berbagi pengalaman mengenai bagaimana mereka memanfaatkan keunggulan kompetitif mahasiswa perantau untuk menghasilkan dampak nyata bagi perusahaan, sekaligus menegaskan bahwa kelompok ini merupakan aset berharga dalam perjalanan Taiwan menuju kompetisi global.<br />
&nbsp;<br />
Humax Asia, perusahaan yang telah lama berkecimpung di pasar usaha kuliner Taiwan, saat ini mengelola enam merek dengan total 51 gerai dan lebih dari 1.300 karyawan. Di antaranya, 38 karyawan adalah mahasiswa perantau. Wang Meng-chiu, Senior Manager Departemen Sumber Daya Manusia, menjelaskan bahwa di tengah tantangan kekurangan tenaga kerja, perusahaan tersebut telah lama mempekerjakan mahasiswa perantau sebagai pekerja paruh waktu dan menemukan bahwa mereka umumnya memiliki kualitas kerja yang sangat baik, responsif, dan memiliki etos kerja yang kuat. Atas dasar itu, sejak 2023 perusahaan mulai merekrut mahasiswa perantau yang memilih menetap di Taiwan melalui mekanisme penilaian terstruktur.<br />
&nbsp;<br />
Wang Meng-chiu juga menyebutkan bahwa mahasiswa perantau di Humax Asia rata-rata berasal dari Malaysia, Indonesia, Myanmar, dan Hong Kong. Kemampuan bahasa yang beragam menjadi aset besar dalam melayani pelanggan internasional dengan lebih efektif.<br />
&nbsp;<br />
Dari pengalaman dua perusahaan tersebut, terlihat jelas bahwa kompetensi profesional, keunggulan komunikasi lintas budaya, dan sikap kerja proaktif mahasiswa perantau merupakan elemen strategis yang membantu perusahaan Taiwan meningkatkan daya saing dalam arena global. Baik filosofi pelatihan Humax Asia yang &ldquo;berorientasi pada manusia dan memperlakukan semua karyawan secara setara&rdquo;, maupun lingkungan kerja SKM Park Outlets yang menekankan &ldquo;keragaman, inklusi, dan dorongan inovasi&rdquo;, semuanya menyediakan landasan yang solid bagi mahasiswa perantau untuk mewujudkan tujuan karier mereka.<br />
&nbsp;<br />
General Manager SKM Park Outlets, Sun Shao-kun, menegaskan bahwa perusahaan menerapkan prinsip perekrutan yang setara. Selama memiliki kompetensi dan sesuai kebutuhan perusahaan, mahasiswa perantau juga memiliki peluang untuk berkembang hingga ke posisi manajerial.]]></description></item><item><title><![CDATA[Penduduk Baru Asal Indonesia Wujudkan Impian, Buka Usaha Kuliner Nusantara “Dapur Kecil Tina”]]></title><link><![CDATA[https://nspp.mofa.gov.tw/nsppid/news.php?unit=433&post=276749]]></link><guid>276749</guid><pubDate>2025/10/23</pubDate><description><![CDATA[Penduduk baru asal Indonesia bernama Lin Hui-ping berhasil mewujudkan impian besarnya dengan mendirikan &ldquo;Dapur Kecil Tina&rdquo;, sebuah usaha kuliner keliling yang berjualan di pasar-pasar akhir pekan di wilayah Chiayi.<br />
&nbsp;<br />
Demi memperkenalkan cita rasa kuliner Nusantara kepada masyarakat Taiwan, ia mengikuti program &ldquo;Rencana Mewujudkan Impian untuk Penduduk Baru dan Keluarga&rdquo; yang diselenggarakan oleh Badan Imigrasi Nasional (NIA), dan berhasil meraih hibah sebesar NTD 100.000 untuk mengembangkan usahanya.<br />
&nbsp;<br />
Belum lama ini, Pos Pelayanan NIA di Kabupaten Chiayi mengadakan kegiatan sosialisasi multikultural. Dalam kesempatan itu, Lin Hui-ping diundang sebagai pembicara untuk memperkenalkan kuliner khas Indonesia melalui kelas memasak &ldquo;Pastel Emas&rdquo;. Lewat kegiatan ini, Lin Hui-ping memperkenalkan keanekaragaman budaya dan tradisi kuliner Indonesia kepada masyarakat setempat.<br />
&nbsp;<br />
Lin Hui-ping menjelaskan bahwa setiap hidangan memiliki nilai budaya tersendiri. Pastel merupakan salah satu makanan rakyat paling khas di Indonesia, biasa disajikan dalam acara keluarga maupun perayaan. Camilan ini dibuat dengan kulit renyah berisi daging ayam, sayuran, telur, bihun, atau udang, kemudian digoreng hingga berwarna keemasan. &ldquo;Pastel bukan hanya sekadar makanan, tapi juga simbol kasih sayang keluarga yang membangkitkan kenangan hangat akan kampung halaman,&rdquo; ujarnya.<br />
&nbsp;<br />
Lin juga bercerita tentang awal mula berdirinya Dapur Kecil Tina. Berawal dari rasa rindu akan masakan kampung halaman dan kegemarannya memasak, ia mencoba membuat pastel sendiri. Tidak disangka, teman-teman sesama warga Indonesia yang mencicipinya memberikan pujian dan mulai memesan. Dari situ muncul keinginannya untuk membangun merek kuliner Indonesia miliknya sendiri. Ia kemudian mulai berjualan di pasar akhir pekan dan menerima banyak tanggapan positif dari pelanggan. &ldquo;Melihat orang-orang menyukai masakan saya, memberikan kebahagiaan dan kepuasan tersendiri,&rdquo; ungkapnya.<br />
&nbsp;<br />
Kepala Pos Pelayanan NIA Kabupaten Chiayi, Huang Shih-hua, menyampaikan bahwa jumlah penduduk baru di Taiwan telah melampaui 600.000 orang. Melalui kegiatan multikultural seperti ini, diharapkan penduduk baru memiliki wadah untuk memperkenalkan budaya asalnya, sekaligus meningkatkan pemahaman dan apresiasi masyarakat terhadap keberagaman budaya.<br />
&nbsp;<br />
NIA terus berupaya memberdayakan penduduk baru dan anak-anak mereka melalui berbagai program pelatihan dan bantuan, serta mendorong mereka yang memiliki keterampilan untuk tampil dan bersinar.<br />
&nbsp;]]></description></item><item><title><![CDATA[Tim Teknis Profesional Taiwan di Indonesia Bantu Kembangkan Kopi Okra, Bekali Siswa dengan Keterampilan Agronomi Profesional]]></title><link><![CDATA[https://nspp.mofa.gov.tw/nsppid/news.php?unit=433&post=276130]]></link><guid>276130</guid><pubDate>2025/10/09</pubDate><description><![CDATA[Tim Teknis Profesional Taiwan di Indonesia (Taiwan Technical Mission/TTM) bekerja sama dengan Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Karawang (SMKN Pertanian Karawang) dalam mengembangkan budidaya okra, tanaman bergizi tinggi yang permintaan pasarnya terus meningkat. Kerja sama ini tidak hanya berfokus pada teknik bercocok tanam, tetapi juga mendorong guru dan siswa untuk menembus batas pertanian tradisional dengan menciptakan produk inovatif bernilai tambah, seperti &ldquo;kopi okra&rdquo;, serta mendirikan toko hasil pertanian sebagai bagian dari pembelajaran kewirausahaan.<br />
&nbsp;<br />
TTM menjelaskan para siswa jurusan Agribisnis di SMKN Pertanian Karawang setiap hari belajar menanam di lahan sekolah. Namun, seiring perubahan permintaan pasar, pihak sekolah mulai menyadari bahwa pertanian modern tidak hanya berhenti pada tahap &ldquo;produksi&rdquo;, tetapi harus menjadi bagian dari rantai industri pertanian yang utuh, mulai dari budidaya hingga pemasaran dan pengolahan produk.<br />
&nbsp;<br />
Perubahan pola pikir ini dimulai setelah menjalin kerja sama dengan TTM. Melalui kemitraan tersebut, TTM tidak hanya memperkenalkan teknologi pertanian terbaru, tetapi juga membawa pendekatan agribisnis berbasis pasar. Para guru dan siswa pun mulai mempelajari bagaimana mengembangkan produk yang relevan dengan tren konsumen, salah satunya adalah inovasi kopi okra.<br />
&nbsp;<br />
Berdasarkan rekomendasi dari TTM, pihak sekolah kemudian menanam varietas okra pilihan yang kaya nutrisi dan memiliki potensi pasar. Tim TTM turun langsung memberikan pelatihan teknis, termasuk dalam hal pemilihan varietas, pengelolaan nutrisi tanah, teknik penyiraman, serta pemupukan yang tepat. Pendampingan tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas dan hasil panen okra, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan agronomi profesional sekaligus pemahaman mengenai manajemen usaha pertanian.<br />
&nbsp;<br />
Setelah produk kopi okra versi awal selesai dikembangkan, TTM kembali memberikan dukungan dengan menyelenggarakan &ldquo;Pasar Tani&rdquo; di mana siswa dapat langsung memasarkan produknya kepada konsumen untuk melakukan uji pasar.<br />
&nbsp;<br />
Selain itu, TTM juga membantu pihak sekolah melakukan uji kualitas di laboratorium untuk memastikan keamanan dan mutu produk, serta membimbing proses pengajuan sertifikasi halal, agar kopi okra memenuhi standar pasar Indonesia dan mampu menjangkau lebih banyak konsumen.]]></description></item><item><title><![CDATA[NPM Cabang Selatan Selenggarakan Pameran Budaya Asia Tenggara dan Festival Seni Asia]]></title><link><![CDATA[https://nspp.mofa.gov.tw/nsppid/news.php?unit=433&post=275975]]></link><guid>275975</guid><pubDate>2025/10/07</pubDate><description><![CDATA[Museum Istana Nasional (NPM) Cabang Selatan pada tanggal 4 Oktober menyelenggarakan dua acara besar secara serentak, yaitu pameran khusus budaya Asia Tenggara, serta Festival Seni Asia-Bulan Samudra Selatan. Pameran ini menampilkan 168 koleksi artefak, sementara Festival Seni Asia menghadirkan lebih dari 25 kegiatan budaya, yang membawa pengunjung menikmati perjalanan budaya kepulauan di musim gugur ini.<br />
&nbsp;<br />
Wakil Direktur Museum Istana Nasional, Huang Yung-tai, menjelaskan bahwa istilah &ldquo;Samudra Asia Tenggara&rdquo; merujuk pada kawasan pertemuan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, mencakup gugusan kepulauan Asia Tenggara serta bagian selatan Semenanjung Malaya, kawasan dengan sejarah budaya yang kaya dan beragam. Pameran ini mengambil konsep &ldquo;keluasan laut dan keterbukaan pelabuhan&rdquo; untuk menggambarkan semangat budaya lintas lautan.<br />
&nbsp;<br />
Kurator pameran, Lin Wan-hsuan, menjelaskan bahwa pameran ini menampilkan berbagai jenis artefak seperti peta, naskah kuno, benda logam, serta kain tenun, yang memperlihatkan bagaimana laut menjadi penghubung antara Timur dan Barat, membentuk lanskap budaya yang beragam. Melalui perpaduan lintas budaya ini, pengunjung diajak menelusuri kedalaman sejarah dan keragaman budaya maritim Asia Tenggara.<br />
&nbsp;<br />
Sementara itu, Festival Seni Asia &ndash; Bulan Samudra Selatan&rdquo; mengusung tema &ldquo;COEX&rdquo;, yang melambangkan koeksistensi, kolaborasi, dan penciptaan bersama. Festival berfokus pada dinamika budaya maritim Asia Tenggara, menghadirkan lebih dari 25 kegiatan, yang mengajak publik menjelajahi hubungan sejarah dan budaya antara Taiwan dan Asia Tenggara yang telah terjalin selama ribuan tahun.<br />
&nbsp;<br />
Rangkaian kegiatan meliputi pameran tematik, seminar, pertunjukan seni, mencoba busana tradisional, lokakarya kreatif, serta permainan interaktif. Dua acara yang paling dinantikan adalah pertunjukan wayang kulit modern yang akan tampil pada 18 dan 19 Oktober, serta penutupan oleh Ansambel Gamelan Universitas Seni Taipei pada 2 November.<br />
&nbsp;<br />
Melalui perpaduan seni, sejarah, dan eksplorasi budaya ini, Museum Istana Nasional (NPM) Cabang Selatan mengajak masyarakat menjelajahi samudra yang menjadi penghubung peradaban dan menemukan kembali semangat lintas budaya yang hidup di jantung Asia Tenggara.]]></description></item><item><title><![CDATA[Kerja Sama Medis Taiwan-Indonesia Semakin Erat, Forum Inovasi Medis TMUH di Bandung Diikuti Hampir 300 Peserta]]></title><link><![CDATA[https://nspp.mofa.gov.tw/nsppid/news.php?unit=433&post=275902]]></link><guid>275902</guid><pubDate>2025/10/03</pubDate><description><![CDATA[Rumah Sakit Universitas Kedokteran Taipei (TMUH) baru-baru ini menggelar Forum Inovasi Medis Masa Depan TMU di Bandung, Indonesia. Acara ini menampilkan berbagai pencapaian dalam layanan klinis, pendidikan kedokteran, dan penelitian mutakhir. Hampir 300 peserta, terdiri dari tenaga profesional medis, mahasiswa, serta tokoh masyarakat dari berbagai wilayah di Indonesia, turut hadir. Forum ini menandai tonggak penting dalam upaya memperdalam kerja sama medis dalam kerangka Kebijakan Baru Arah Selatan (New Southbound Policy, NSP).<br />
&nbsp;<br />
Dalam siaran persnya, TMUH menjelaskan bahwa forum ini digelar dengan semangat &ldquo;berpusat pada pasien, berinovasi untuk menjangkau dunia&rdquo;/ Acara bertujuan untuk memperluas jangkauan internasional melalui inovasi medis serta memperkuat kerja sama dengan mitra di Indonesia.<br />
&nbsp;<br />
Kepala TMU Hospital, Shih Chun-ming, dalam sambutannya menegaskan bahwa forum tahun ini mengusung tema &ldquo;Mengobati Manusia, Bukan Hanya Menangani Penyakit&rdquo;/ Ia menjelaskan, inti dari pelayanan medis bukan hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga menjaga kualitas hidup serta memberikan harapan bagi pasien. Shih Chun-ming menambahkan, pihaknya berharap kerja sama dengan Indonesia di bidang kesehatan dapat terus diperluas dan diperdalam di masa mendatang.<br />
&nbsp;<br />
Selain itu, tiga alumni berprestasi asal Indonesia yang pernah menempuh pendidikan dan menjalani praktik klinis di TMU juga turut diundang sebagai pembicara. Mereka berbagi pengalaman berharga selama studi di Taiwan, sekaligus memperlihatkan komitmen jangka panjang TMU dalam mendukung pengembangan talenta medis Indonesia serta mempererat hubungan kedua pihak.<br />
&nbsp;<br />
Menurut TMUH, para peserta forum menyampaikan bahwa acara ini memberi pemahaman lebih komprehensif mengenai pengobatan presisi, terapi kanker, serta kerja sama medis internasional. Mereka juga menyatakan harapan agar kerja sama dengan TMU dapat terus diperkuat di bidang pendidikan medis, layanan klinis, dan kesehatan masyarakat pada masa yang akan datang.]]></description></item><item><title><![CDATA[Konselor Pendidikan dari Indonesia Kunjungi Taiwan]]></title><link><![CDATA[https://nspp.mofa.gov.tw/nsppid/news.php?unit=433&post=275368]]></link><guid>275368</guid><pubDate>2025/09/23</pubDate><description><![CDATA[Dewan Urusan Komunitas Diaspora (OCAC) pada 21-27 September 2025 menyelenggarakan program kunjungan &ldquo;Rombongan Konselor Pendidikan dari Thailand, Myanmar, Laos, dan Indonesia 2025&rdquo;. Rombongan terdiri dari 32 peserta dari empat negara. Pada 22 September, rombongan melakukan kunjungan resmi ke OCAC dan diterima oleh Wakil Ketua OCAC Chang Liang-min serta Direktur Departemen Mahasiswa Diaspora Chang Wen-hua, untuk berdiskusi mengenai kebijakan pendidikan Taiwan serta prospek jaringan pengembangan karier bagi mahasiswa diaspora.<br />
&nbsp;<br />
Kebijakan pendidikan bagi mahasiswa diaspora Taiwan telah berjalan lebih dari 70 tahun. Selain membangun sistem pendidikan yang lengkap, saat ini Taiwan juga aktif mengembangkan program vokasi unggulan yang menyeimbangkan teori dan praktik, seperti Program Khusus Kolaborasi Industri-Akademisi serta Program Sarjana Empat Tahun Kolaborasi Industri-Akademisi.<br />
&nbsp;<br />
OCAC menegaskan bahwa kelas khusus mahasiswa diaspora dirancang agar siswa dapat menyeimbangkan kuliah dengan praktik kerja, sekaligus meringankan beban ekonomi. OCAC juga bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan (MOE) dan berbagai universitas untuk memperkuat kemampuan bahasa Mandarin para mahasiswa diaspora, sehingga mereka dapat lebih cepat beradaptasi dengan kehidupan di Taiwan. Selain itu, dukungan berupa beasiswa, bantuan medis, serta layanan darurat juga disediakan agar mahasiswa dapat belajar dengan tenang dan menjalani keseharian dengan baik di Taiwan.<br />
&nbsp;<br />
Ketua Delegasi Yin Sheng-bang menyampaikan bahwa Taiwan mendapat perhatian dunia berkat keberhasilan dalam demokrasi dan pembangunan ekonomi, sementara di Asia, sistem pendidikan dan layanan kesehatan Taiwan juga sangat diakui. Menurutnya, dengan perubahan struktur ekonomi global dan kebutuhan pembangunan di Asia Tenggara, pendidikan tinggi Taiwan kini telah menjadi pilihan utama bagi generasi muda Tionghoa perantauan di kawasan Asia Tenggara.<br />
&nbsp;<br />
Yin juga membagikan pengalamannya sebagai mahasiswa diaspora asal Myanmar yang pernah menempuh studi di Taiwan. Setelah kembali ke tanah air, ia terus mendorong pendidikan diaspora dan pembelajaran bahasa Mandarin, serta aktif mendukung siswa melanjutkan pendidikan tinggi di Taiwan. Ia meyakini bahwa mahasiswa diaspora akan menjadi kekuatan sipil penting bagi Taiwan di Asia Tenggara, sekaligus memberi kontribusi nyata dalam diplomasi pragmatis dan Kebijakan Baru Arah Selatan (New Southbound Policy, NSP) Taiwan melalui pengaruh yang tidak terlihat namun signifikan.]]></description></item></channel></rss>